Kamis, 03 November 2011

MANAJEMEN RESIKO



BAB I KONSEP RESIKO
  Dunia penuh ketidakpastian
  Ketidakpastian mengakibatkan adanya resiko (yang merugikan) bagi pihak-pihak yang berkepentingan
  Apalagi bagi dunia bisnis, resiko tidak dapat diabaikan begitu saja
  Oleh karena itu, pengusaha harus selalu berusaha untuk menanggulanginya.
  Artinya berupaya untuk meminimumkan ketidakpastian agar kerugian yang timbul dapat dihilangkan atau diminimumkan
  Pengelolaan berbagai cara penanggulangan resiko disebut Manajemen Resiko.

Langkah-langkah pengelolaan resiko:
  1. Berusaha mengidentifikasi unsur-unsur ketidapastian dan tipe-tipe resiko yang dihadapi
  2. Berusaha menghindari dan menanggulangi semua unsur ketidakpastian, mis. Membuat perencanaan yg baik
  3. Berusaha mengetahui korelasi dan konsekuensi antar peristiwa, sehingga dapat diketahui resiko-resiko yang terkandung di dalamnya
  4. Berusaha mencari dan mengambil langkah-langkah (metode) untuk mennagani reiko-resiko yang telha berhasil diidentifikasi (mengelola resiko yang dihadapi)

Risk Management Paradigm
DEFINISI
  RESIKO adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu (Arthur Williams dan Richard M.H.)
  Resiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss) (A.Abbas Salim)
  Resiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto)
  Resiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan (Herman Darmawi)
  Resiko adalah probabilitas seseuatu hasil/outcome yang berbeda dengan yang diharapkan (Herman Darmawi)
Wujud Resiko
  1. Kerugian atas harta benda/kekayaan atau penghasilan, misalnya yag diakibatkan oleh kebakaran, pencurian, pengangguran dsb.
  2. Penderitaan seseorang, misalnya sakit atau cacat karena kecelakaan
  3. Tanggung jawab hukum, misalnya resiko dari perbuatan atau peristiwa yang merugika orang lain
  4. Kerugian karena perubahan pasar, misalnya karena terjadi perubahan harga, perubahan selera konsumen, dll.
Risiko Bisnis mengancam kelangsungan perusahaan yang berhubungan dengan :
  Penciptaan produk yang tidak sesuai dengan strategi bisnis perusahaan
  Pembangunan produk dimana bag. pemasaran tidak tahu bagaimana harus menjualnya.
  Kehilangan dukungan dari manajemen senior sehubungan dgn perubahan manusia
  Kehilangan hal-hal yg berhububungan dgn biaya

KETIDAKPASTIAN
  1. KETIDAKPASTIAN EKONOMI (economic uncertaity), yaitu kejadian-kejadian yang timbul sebagai akibat kondisi dan perilaku dari pelaku ekonomi, misalnya perubahan sikap konsumen, perubahan selera konsumen, perubahan harga, perubahan teknologi, penemuan baru, dsb.
  2. KETIDAKPASTIAN ALAM (uncertainty of nature) yaitu ketidakpastian yang disebabkan oleh alam, misalnya banjir, gempa bumi, kebakaran, dsb.
  3. KETIDAKPASTIAN KEMANUSIAAN (human uncertainty) yaitu ketidakpastian yang disebabkan oleh perilaku manusia mis.peperangan, pencurian, penggelapan, pembunuhan, dsb.

Macam Resiko

MENURUT SIFATNYA
  1. Resiko yang tidak disnegaja (resiko murni), adalah resiko yang apabila terjadi tentu menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa disengaja, mis.bencana alam, kebakaran, kekacauan
  2. Resiko yang disengaja(resiko spekulatif) adalah resiko yang sengaja ditimbulkan oleh yang bersangkutan agar terjadinya ketidakpastian memberikan keuntungan kepadanya, mis.resiko hutang piutang, perjudian, perdagnagan berjangka (hedging), dll
  3. Resiko fundamental adalah resiko yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan kpd seseorang dan diderita byk org mis. Banjir, angin topan
  4. Resiko khusus adalah resiko yg bersumber pd peristiwa yang mandiri dan umumnya mudah diketahui penyebabnya mis. Kapal kandas, pesawat jatuh, tabrakan mobil

Menurut Sumber/penyebab timbulnya resiko
  1. Resiko intern, yaitu resiko yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri seperti kerusakan aktiva krn ulah karyawannya, kecelakaan kerja, mis manajemen, dll.
  2. Resiko ekstern, yaitu resiko yang berasal dari luar perusahaan seperti resiko pencurian, penipuan, persaingan, fluktuasi harga, perubahan kebijakan pemerintah

MANAJEMEN RESIKO
  Manajemen resiko adalah pelaksanaan fungsi-fungai manajemen dalam penanggulangan resiko terutama resiko yang dihadapi oleh organisasi/perusahaan, keluarga, dan masyarakat.
  Manajemen resiko mencakup kegiatan merencanakan, mengorganisir, menyusun, mengkoordinir, dan mengawasi program penanggulangan resiko
  Program manajemen resiko mencakup tugas-tugas: mengidentifikasi resiko yg dihadapi, mengukur/menentukan besarnya resiko, mencari jalam untuk menghadapi atau menanggulangi resiko, menyusun strategi untuk memerkecil atau mengendalikan resiko, mengkoordinir pelaksanaan penanggulangan resiko serta mengevaluasi program pennaggulangan resiko yang telah dibuat.


BEBERAPA ISTILAH
  PERIL
   Adalah peristiwa atau kejadian yang menimbulkan kerugian. Jadi merupakan kejadian/peristiwa penyebab langsung terjadinya suatu kerugian, mis. Kebakaran, kecelakaan, pencurian
  HAZARD
   Adalah keadaan dan kondisi yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril. Mis. Jalan licin, tikungan tajam.

HAZARD DAPAT DIBEDAKAN ATAS
:
  1. Physical Hazard
     Adalah keadaan dan kondisi yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril yg bersumber dar karakteristik secara fisik dari objek, baik yg bisa diawasi/diketahui maupun yg tidak
B. Moral Hazard
     Adalah keadaan dan kondisi seseorang yang memperbesar kemungkinan terjadinya peril yg bersumber pada sikap mental, pandangan hidup, ekbiasaan orang yg bersangkutan. Mis. pelupa
C. Legal Hazard
     Adalah perubahan yg mengabaikan peraturan-perutaran atau perundangan2an yg berlaku (melanggar hukum) sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya peril. Mis. Pelanggaran UU keselamatan kerja

DEFINISI
  Definisi konseptual mengenai resiko :  (Robert Charette)
  Resiko berhubungan dengan kejadian di masa yg akan datang.
  Resiko melibatkan perubahan (spt. perubahan pikiran, pendapat, aksi, atau tempat)
  Resiko melibatkan pilihan & ketidakpastian bahwa pilihan itu akan dilakukan.
Pengertian
  Pengelolaan perusahaan menurut Henry Fayol memiliki enam fungsi dasar: kegiatan teknis, komersil, keuangan, keamanan, akuntansi, dan manajerial.
  Maka manajemen resiko berkaitan dengan kegiatan keamanan yg bertujuan menjaga harta benda dan personil perusahaan thd kerugian.

STRATEGI REAKTIF vs PROAKTIF
  Strategi reaktif memonitor perusahaan terhadap kemungkinan resiko. Sumber-sumber daya dikesampingkan, padahal seharusnya sumber-sumberdaya menjadi masalah yang sebenarnya / penting.
  Strategi proaktif dimulai sebelum kerja teknis diawali.
                Resiko potensial diidentifikasi, probabilitas & pengaruh proyek diperkirakan, dan diprioritaskan menurut kepentingan, kemudian membangun suatu rencana untuk manajemen resiko.
                Sasaran utama adalah menghindari resiko.

PEMBAGIAN RESIKO
  Karakteristik resiko :
  Ketidakpastian
  Kerugian
  Kategori resiko :
  Resiko proyek
  Resiko teknis
  Resiko bisnis
  Kategori resiko oleh Robert Charette :
  Resiko yang sudah diketahui
  Resiko yang dapat diramalkan
  Resiko yang tidak diharapkan
@ Resiko proyek
  Resiko proyek mengancam rencana proyek.
  Bila resiko proyek menjadi kenyataan maka ada kemungkinan jadwal proyek akan mengalami slip & biaya menjadi bertambah.
  Resiko proyek mengidenifikasi :
                - biaya                                  - sumber daya
                - jadwal                                - pelanggan
                - personil (staffing & organisasi)               
                - masalah persyaratan
@ Resiko teknis
  Resiko teknis mengancam kualitas & ketepatan waktu pelaksanaan yg akan dihasilkan. Bila resiko teknis menjadi kenyataan maka implementasinya menjadi sangat sulit atau tidak mungkin.
  Resiko teknis mengidentifikasi :
                - desain potensial                                                - ambiquitas
                - implementasi                                                    - spesifikasi
                - interfacing                                                        - ketidakpastian teknik
                - verifikasi                                                           - keusangan teknik
                - masalah pemeliharaan                               
                - teknologi yg leading edge
@ Resiko bisnis
  Resiko bisnis mengancam kelanjutan operasi perusahaan.
  Resiko bisnis membahayakan produk/jasa yang dihasilkan.

5 RESIKO BISNIS UTAMA
  1. Resiko Pasar
  2. Resiko Strategi
  3. Resiko Pemasaran
  4. Resiko Manajemen
  5. Resiko Biaya
@ Resiko yg sudah diketahui
adalah resiko yg dpt diungkap setelah dilakukan evaluasi secara hati2 terhadap rencana proyek, bisnis, & lingkungan dimana operasi sedang dikembangkan, dan sumber informasi reliable lainnya, seperti :
  tgl penyampaian yg tdk realitas
  kurangnya persyaratan yg terdokumentasi
  kurangnya ruang lingkup proyek
  lingkungan pengembangan yg buruk
@ Resiko yg dapat diramalkan
 diekstrapolasi dari pengalaman perusahaan sebelumnya.
  Misalnya :
                  pergantian staf
                  komunikasi yg buruk dgn para pelanggan
                  mengurangi usaha staff bila permintaan  pemeliharaan sedang berlangsung dilayani
@ Resiko yg tidak diharapkan
  resiko ini dapat benar-benar terjadi, tetapi sangat sulit untuk diidentifikasi sebelumnya.



 BAB II FUNGSI MANAJEMEN RISIKO
  1. Fungsi manajemen resiko lebih baik dijelaskan dan dipahami melalui langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan.
  2. Proses ini dimulai dengan mengenal berbagai resiko yang sedang dihadapi (disebut identifikasi/diagnosa resiko)
  3. Selanjutnya resiko diukur, dianalisis dan dievaluasi dalam ukuran frekuensi, keparahan dan variabilitasnya.
  4. Keputusan diambil untuk memilih dan menggunakan metode-metode penanganan resiko (menanggung sendiri, menghindari, mengasuransikan)
  5. Setelah metode penanganan resiko telah dipilih, maka langkah berikutnya adalah rencana pengadministrasian program secara melembaga.

STRATEGI REAKTIF vs PROAKTIF
  Strategi reaktif memonitor perusahaan terhadap kemungkinan resiko dan merencanakan upaya penanggulangan resiko.
  Strategi proaktif dimulai sebelum kerja diawali.
                Resiko potensial diidentifikasi, probabilitas & pengaruh operasi perusahaan, dan diprioritaskan menurut kepentingan, kemudian membangun suatu rencana untuk mencegah terjadi resiko.
                Sasaran utama adalah menghindari resiko.


FUNGSI MANAJEMEN RESIKO
  1. Menemukan Kerugian Potensial
                artinya berupaya untuk menemukan/ mengidentifikasi seluruh resiko murni yang dihadapi perusahaan, meliputi:
  1. Kerusakan fisik atas harta kekayaan perush
  2. Kehilangan pendapatan akibat terganggunya operasi perusahaan
  3. Kerugian akibat tuntutan hukum dari pihak lain
  4. Kerugian yang timbul krn tindakan kriminal
    2. Mengevalusi Kerugian Potensial

Artinya melakukan evaluasi dan penilaian thd semua kerugian potensial yg dihadapi perush, mengenai:
  1. Besarnya kemungkinan frekuensi terjadinya kerugian
  2. Besarnya kegawatan dari tiap kerugian
  3. Memilih teknik/cara yg tepat atau menentukan suatu kombinasi dari teknik yang tepat guna menanggulangi kerugian.

CARA PENANGGULANGAN RESIKO:
                1. IDENTIFIKASI RISIKO
  Identifikasi resiko adalah usaha sistematis untuk menentukan ancaman terhadap rencana perusahaan.
  Tujuan identifikasi risiko :
                untuk menghindari resiko bilamana mungkin, serta menghindarinya setiap saat diperlukan.
Tipe risiko :
@  risiko generik
    merupakan ancaman potensial pd setiap kegiatan usaha.
@  risiko produk spesifik
     hanya dapat diidentifikasi dgn pemahaman khusus mengenai teknologi, manusia, serta lingkungan yg spesifik terhadap operasi perusahaan.

Metode untuk  mengidentifikasi resiko adalah menciptakan checklist item risiko.
Kategori checklist item resiko :
¡                  resiko ukuran produk                                    
¡                  resiko yg mempengaruhi bisnis
¡                  resiko yg dihubungkan dgn karakteristik pelanggan
¡                 resiko definisi proses
¡                  resiko teknologi yang akan dibangun
¡                  resiko lingkungan pengembangan
¡                  resiko yg berhubungan dgn ukuran dan pengalaman staf

2. MENILAI PENGARUH RESIKO
Tiga faktor yg mempengaruhi konsekuensi jika suatu resiko benar-benar terjadi :
¡  Sifatnya ; resiko yang menunjukkan masalah yg muncul bila ia terjadi
¡  Ruang lingkupnya; menggabungkan kepelikannya (seberapa seriusnya masalah ini?) dengan keseluruhan operasi perusaaan ( berapa banyak operasi perusahaan yg akan dipengaruhi atau berapa banyak pelanggan terganggu?)
¡  Timingnya; berkaitan dengan kapan dan untuk berapa lama pengaruh itu dirasakan.



BAB III IDENTIFIKASI RISIKO
          Identifikasi resiko adalah usaha sistematis untuk menentukan ancaman terhadap rencana perusahaan.
          Identifikasi resiko adalah suatu proses dengan mana suatu perusahaan secara sistematis dan terus menerus mengidentifikasi property, liability, dan personel exposures sebelum terjadinya peril.
          Tujuan identifikasi risiko :
                untuk menghindari resiko bilamana mungkin, serta menghindarinya setiap saat diperlukan.
          Manfaat Daftar Kerugian Potensial
  1. Mengingatkan Manajer Resiko tentang kerugian-kerugian yang dapat menimpa bisnisnya
  2. Sebagai tempat mengumpulkan informasi yg akan menggambarkan dgn cara apa dan bgmn bisnis khusus yg dapat dimanfaatkan utk menanggulangi resiko potensial yg dihadapi
  3. Sebagai bahan perbandingan dalam mereview dan mengevaluasi program penanggulangan resiko yg telah dibuat

         
SUMBER-SUMBER INFORMASI UTK MEMBUAT DAFTAR KERUGIAN POTENSIAL
  1. Data dari perusahaan asuransi
  2. Informasi dari Badan Penerbitan Asuransi
  3. Informasi dari Ikatan Manajer Resiko dan Asuransi
  4. Informasi/rilase dari Kepolisian
  Tipe risiko :
        risiko generik
    merupakan ancaman potensial pd setiap proyek atua kegiatan usaha.
        risiko produk spesifik
     hanya dapat diidentifikasi dgn pemahaman khusus mengenai teknologi, manusia, serta lingkungan yg spesifik terhadap operasi perusahaan.
          Metode untuk  mengidentifikasi resiko adalah menciptakan checklist item risiko.

         
KLASIFIKASI KERUGIAN POTENSIAL:
  1. Kerugian atas harta Kekayaan (property exposure), yg meliputi:
  1. Kerugian yg langsung dapat dihubungkan dengan biaya penggantian atau perbaikan thd harta yang terkena peril mis.gedung yg terbakar, peralatan yg dicuri. Jenis kerugian ini disebut kerugian langsung.
  2. Kerugian yg tidak dapat secara langsung dihubungkan dgn peril yg terjadi yaitu kerugian yg diakibatkan oleh rusaknya brg yang terkena peril. Disebut kerugian tdk langsung
     c. Kerugian atas pendapatan misalnya sebagai akibat tidak berfungsinya alat produksi krn terkena peril.
  mis. Batalnya kontrak penjualan krn perusahaan tdk berproduksi utk sementara waktu krn alat produksinya rusak berat

      2. Kerugian berupa kewajiban kpd pihak lain: adalah kerugian berupa kewajiban kpd pihak lain yg merasa dirugikan akibat kesalahan bisnisnya. Mis.ganti rugi yg harus diberikan perusahaan angkutan umum kpd penumpang yg cedera akibat kecelakaan yg disebabkan oleh kesalahan pengemudi

      3. Kerugian personil (personel exposure)
Adalah kerugian akibat peril yg menimpa personil atau orang-orang yg menjadi anggota dari karyawan perusahaan (termasuk keluarganya). Mis.
          Kematian, ketidakmampuan krn cacat, ketidakmampuan krn usia tua
          Kerugian yg menimpa keluarga karyawan akiat kematian dan ketidakmampuan   
  1. Menggunakan daftar pertanyaan (quesioner) utk menganalisis resiko. Dari jawaban diharapkan dpt diberikan petunjuk ttg dinamika informasi khusus
  2. Menggunakan laporan keuangan, yaitu dgn menganalisis neraca, laporan operasi dan catatan-catatan pendukung lainnya, akan dapat diketahui semua kekayaan, hutang piutang,dsb.
      3. Membuat flow chart aliran barang mulai dari bahan mentah sampai menjadi barang jadi akan   dapat diketahui resiko-resiko yg dihadapi pd masing-masing tahap aliran tsb.
      4. Dengan inspeksi langsung ditempat, artinya dengan mengadakan pemeriksaan secara langsung di tempat dimana operasi perusahaan dilakukan
      5. Mengadakan interaksi dgn departemen lain dalam perusahaan,
dgn cara:
  1. Mengadakan kunjungan ke departemen lain sehingga dapat menjalin kerjasama
  2. Menerima, mengevaluasi, memonitor dan menanggapi laporan-laporan dari departemen lain yg akan meningkatkan pemahaman ttg aktivitas dan resiko yg dihadapi
      6. Mengadakan interaksi dengan pihak luar, artinya mengadakan hubungan dgn perusahaan lain terutama pihak-pihak yg dapat membantu perusahaan dlm menanggulangi resiko spt.akuntan, penasehat hukum, asuransi.
      7. Melakukan analisis thd kontrak-kontrak yg telah dibuat dgn pihak lain. Dari analisis tsb akan dapat diketahui kemungkinan adanya resiko dari kontrak tsb 
      8. Membuat dan menganalisis catatan atau statistik mengenai berbagi macam kerugian yg pernah diderita sehingga dapat diperhitungkan kemungkinan terulangnya kerugian seklaigus penyebabnya.
      9. Mengadakan analisis lingkungan yg sangat diperlukan utk mengetahui kondisi yg mempengaruhi timbulnya resiko potensial spt konsumen, pemasok, penyalur, pesaing, dan pemerintah.
          Manajer resiko dapat melakukan sendiri tugasnya utk mengidentifikasi resiko , namun juga dapat menugaskan bawahannya atau menggunakan jasa pihak ketiga spt konsultan manajemen, broker asuransi, atau perusahaan asuransi.


BAB IV PEMBELANJAAN
RESIKO
(RISK FINANCING)

PENDAHULUAN
 Membahas tentang pembelanjaan (pembiayaan) yang berhubungan dengan cara-cara pengadaan dana untuk memulihkan kerugian, terdiri dari:
  1. Risk financing transfer (memindahkan resiko disertai dengan pembiayaan)
  2. Risk retention (resiko ditangani sendiri oleh perusahaan yang bersangkutan)

RISK FINANCING TRANSFER
}  Memindahkan resiko melalui risk financing berarti perusahaan pihak tertanggung mencari dana eksternak yang akan membayar kerugian yang bersangkutan jika kerugian nanti sungguh terjadi
Risk financing transfer dapat dilakukan dengan cara:
  1. Transfer resiko kepada perusahaan asuransi
  2. Transfer resiko kepada perusahaan lain yang bukan perusahaan asuransi (non insurance transfer)
@ Noninsurance Transfer
}  Kebanyakan pemindahan resiko kepada pihak non asuransi ini dilakukan melalui kontrak-kontrak bisnis biasa, dan melalui kontrak khusus untuk pemindahan resiko.
}  Banyak isi kontrak berkaitan dengan pemindahan tanggung jawab keuangan atas:
  1. Harta
  2. Kerugian atas  net  income
  3. Kerugian personil
  4. Tanggung gugat kepada pihak ketiga
    Noninsurance transfer mempunyai beberapa keterbatassan yang harus diperhatikan oleh manajer resiko
  1. Kontrak mungkin hanya memindahkan sebagian resiko daripada resiko yang menurut pendapat manajer telah dipindahkan kepda pihak luar. Karena itu manajer harus mempelajari isi kontrak dengan hati-hati.
  2. Bahasa yang tertulis di dalamnya adalah bahasa “hukum” yang sangat sukar dipahami, akrean itu bisa salah emngerti
  3. Surat kontrak bisa dibatalkan oleh pengadilan jika isinya bertentangan dengan undang-undang atau peraturan pemerintah atau kebiajksanaan pemerintah atau tidak wajar bagi
Contoh noninsurance risk financing transfer
  1. Melalui suatu perjanjian leasing, lessor bisa memindahkan kepada penyewa tanggung jawab keuangan untuk kerusakan harta atau kecelakaan badan bagi pihak ketiga. Sebelum ditandatangani perjanjian, tanggung jawab ada pada lessor
  2. Melalui suatu perjanjian lessing (lessee=penyewa) juga bisa menggeserkan kerugian potensialnya kepada  lessor, tergantung atas bagaimana bunyi perjanjian.
 Dengan melakukan leasing, berarti lessee bebas dari resiko  turunnya harga barang yang disewa, atau resiko keusangan ekonomis, maupun keusangan teknologi, dibandingkan jika barang itu miliknya sendiri
3.    Pemindahan resiko juga terjadi pada kontrak pengririman barang, kontrak penyimpanan barang, kontrak pembuatan suatu bangunan dan sebagainya, dimana dalam kontrak dicantumkan adanya pembayaran premi resiko
4.    Surety bond
Dalam kontrak yang disebut surety bond terlibat 3 pihak, yaitu pihak surety (penjamin), pihak obligee (yang dijamin) dan pihak participal
        5.    Neutralization
Merupakan proses menyeimbangkan peluang kerugian atas peluang keuntungan. Contoh adalah hedging. Hedging dilaksanakan dengan jalan misalnya bersamaan dengan pembuatan kontrak penjualan, maka penjual mengadakan kontrak pembelian dengan pendagang lain untuk barang yang sama jenisnya. Dengan demikian dapat ditutup resiko kenaikan harga, resiko putusnya persediaan dan sebagainya.

MENANGGUNG SENDIRI RESIKO (RISK RETENTION)
}  Metode yang paling umum dalam penanganan resiko
}  Sumber dana diusahakan sendiri oleh perusahaan
}  Penanggungan bisa bersifat pasif atau tidak direncanakan atau bisa bersifat aktif (direncanakan)
RETENSI DILAKUKAN SEBAB;
  1. Jika biaya lebih rendah dari biaya yang dibebankan pihak perusahaan asurans
  2. Jika kerugian-harapan (expected losess) lebih rendah dari perkiraan perusahaan asuransi
  3. Jika unit yang mengahadapi resiko banyak, sehingga resiko akan menjadi lebih rendah
4.    Pembayaran expense dan kerugian membengkak selama jangka waktu panjang, yang menhasilkan opportunity cost yang besar
5.    Peluang yang kuat bagi investasi yang mengakibatkan opportunity cost yang besar


BAB V

PENGUKURAN RESIKO

Setelah manajer resiko mengidentifikasi berbagai jenis resiko yang dihadapi perusahaan, maka selanjutnya resiko itu harus diukur.
Perlunya pengukuran resiko adalah:
  1. Untuk menentukan relatif pentingnya
  2. Untuk memperoleh informasi yang akan menolong untuk menetapkan kombinasi peralatan manajemen resiko yang tepat untuk menanganinya
Dimensi yang harus Diukur
Informasi yang diperlukan berkenaan dengan dua dimensi resiko yang perlu diukur yaitu:
  1. Frekuensi atau jumlah kerugian yang akan terjadi
  2. Keparahan dari kerugian tersebut
Dari penilaian tersebut, dapat diketahui:
  1. rata-rata nilainya dalam periode anggaran
  2. Variasi nilai dari satu periode anggaran ke periode anggaran sebelum dan berikutnya
  3. Dampak keseluruhan dari kerugian-kerugian  itu jika seandainya kerugian tersebut ditanggung sendiri
KONSEP PROBABILITAS
Pengukuran kerugian menyangkut kemungkinan (probabilitas) dari kerugian potensial.
Maka dalam mengukur resiko seorang Manajer Resiko harus memahami konsep probabilitas tersebut, sehingga strategi yang diterapkan tepat
Secara umum probabilitas: “kesempatan/kemungkinan terjadinya suatu kejadian” atau “kemungkinan jangka panjang terjadinya sesuatu”
KONSEP “SAMPEL SPACE” DAN “EVENT”
Untuk mempelajari konsep probabilitas, perlu dipahami konsep sample space dan event.
Sample space (Set S) adalah suatu set dari kejadian tertentu yang diamati.
Mis. Jumlah kecelakaan mobil di wilayah Kota Malang selama 2009.
Suatu Set S biasanya terdiri dari beberapa segmen yang disebut sub set atau event (Set E).
Mis. Jumlah kecelakaan mobil terdiri atas segmen moobil pribadi dan mobil penumpang umum
Untuk menghitung secara cermat probablitas kecelakaan mobil tersebut, masing-masing event perlu diberi bobot.
Pembobotan didasarkan pada bukti empiris pengalaman sebelumnya
Dimana masing-masing event mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga mempunyai probablitas yang berbeda.
Mis. Untuk mobil pribadi diberi bobot 2, sedang utk mobip pengangkutan umum diberi bobot 1, maka probabilitas kecelakaan mobil dapat dihitung dengan rumus:
  1. Bila tanpa bobot:
  2. Bila dengan bobot:
Dimana:
P(E) = probabilitas terjadinya event
E      = sub set atau event
S      = sample space atau set
w     = bobot dari masing-masing event
Contoh: dari catatan polisi diketahui bahwa jumlah kecelakaan mobil di Kota Malang selama 2008 sebanyak 10.000 kali, dimana dari jumlah tersebut yang 1.000 menimpa mobil pribadi dan 9.000 menimpa mobil penumpang umum.
Maka probabilitas terjadinya kecelakaan mobil pribadi adalah:
  1. Tanpa bobot:
  2. Dengan bobot
AKSIOMA DEFINISI PROBABILITAS
  1. Probabilitas adalah suatu nilai/angka  yang besarnya berkisar antara 0 sampai 1, yang diberikan pada masing-masing event
  2. Jumlah hasil penambahan keseluruhan  probabilitas dari event-event (Set E) yang saling pilah dalam sample space (Set S) adalah 1
  3. Probabilitas suatu event yang terdiri dari sekelompok event yang saling pilah dalam suatu set (sample space) merupakan hasil penjumlahan dari masing-masing probablitas yang terpisah.
NILAI HARAPAN (EXPECTED VALUE)
Expected value dari suatu event dapat ditentukan dengan membuat tabel (tabel binomial) untuk hasil-hasil yang mungkin diperoleh dari menilai masing-masing hasil tersebut berdasarkan probabilitasnya.
Dengan menjumlahkan hasil dari masing-masing event akan diperoleh expected valuenya.
Contoh: diketahui bahwa dari 100 buah rumah kemungkinan terbakarnya satu rumah adalah 27% dan rata-rata kerugian untuk setiap kebakaran adalah Rp 100.000.000,-.
Maka expected lossnya adalah Rp 27.000.000,- (27% x Rp 100.000.000,-).
Bila kemungkinan terbakarnya dua rumah adalah 19%, maka expected lossnya: Rp. 38jt (19%x2xRp100.000.000,-). Sehingga expected loss untuk satu rumah sebesar Rp 19jt.
Kemudian bila kemungkinan terbakarnya sepuluh rumah adalah sebesar 1% maka expected lossnya adalah
     1% x 10 x Rp 100.000.000,- = Rp 10 jt
Maka expected loss untuk satu rumah sebesar
Rp 1.000.000,-
Konsep expected value
Konsep expected value sering ditemui terutama di dunia bisnis.
Misalnya: seorang kontraktor diminta membangun sebuag gedung dimana jika semuanya berjalan baik ia akan mendapat keuntungan sebesar Rp 10.000.000.000,-
Karena menyadari selalu ada hal-hal yang tidak terduga, maka probabilitas utk mendapatkan keuntungan diperkirakan hanya 80%, dimana yang 20% adalah pengeluaran-pengeluaran yang tidak terduga.
Jadi expected value dari pekerjaan tersebut sebesar Rp 6.000.000.000,-
PENANGGULANGAN RESIKO
  • Setelah manajer resiko melakukan identifikasi dan mengukur resiko, maka tahap selanjutnya adalah memilih cara penanggulangan resiko
  • Seorang manajer resiko pada prinsipnya dapat menggunakan du pendekatan/cara menanggulangi resiko:
  1. Penanganan Resiko (Risk Control)
  2. Pembiayaan Resiko (Risk Financing)

    1.Penanganan Resiko
     
    Beberapa metode yang dapat digunakan:
  1. Menghindari resiko
  2. Mengendalikan kerugian
  3. Pemisahan resiko
  4. Melakukan kombinasi atau pooling
  5. Memindahkan resiko

    1. Menghindari Resiko

    Menghindari suatu resiko murni adalah menghindarkan harta, orang atau kegiatan dari exposure, dengan cara:
  1. Menolak memiliki, menerima atau melaksanakan kegiatan yang mengandung resiko, walaupun hanya sementara. Mis. Tidak mau menerima pengemudi mabuk, tidak menjual barang secara kredit
      2.Menyerahkan kembali resiko yang terlanjur diterima atau segera menghentikan yang diketahui mengandung resiko. Mis. Membatalkan pembelian barang yang murah harganya stlh tahu barang tersebut adalah barang selundupan
  • Beberapa karaktersitik penghindaran resiko segarusnya diperhatikan:
  1. Boleh jadi tidak ada kemungkinan menghindari resiko. Mis. Jika ingin menghindari semua resiko tanggung jawab maka semua kegiatan perlu dihentikan
  2. Manfaat atau laba potensial yang akan diterima sebab kepemilikan suatu harta, mempekerjakan pegawai tertentu, atau bertanggung jawab atas suau kegiatan, akan hilang jika melaksanakan penghindaran resiko
  3. Makin sempit resiko yang dihadapi, maka akan semakin besar kemungkinan akan tercipta resiko yang baru. Misalnya menghindari resiko pengangkutan dengan kapal laut dan menggantinya dengan angkutan darat, akan memunculkan resiko baru yakni resiko pengangkutan darat.
2. Mengendalikan Kerugian
  • Pengendalian kerugian bertujuan utk:
  1. Memperkecil kemungkinan terjadinya kerugian
  2. Mengurangi keparahan bila suatu resiko memang terjadi.
Tujuan tersebut dapat tercapai dgn cara:
  1. Melakukan tindakan pencegahan dan pengurangan kerugian. Yakni berusaha untuk mengurangi atau jika bisa menghilangkan peluang terjadinya kerugian
     Misal
          Peluang terjadinya kebakaran dapat dikurangi dgn menggunakan konstruksi tahan api
          Peluang kecelakaan kerja dapat dihindari dengan menerapkan peraturan keselamatan kerja (masker, kaca mata las, dsb.)
  • Program pengurangan kerugian dapat dibedakan atas:
1.Program minimisasi (minimization program)
   Program yang dijalankan sblm kerugian terjadi atau selama kerugian sdg terjadi dengan tujuan membatasi besarnya kerugian. Mis. Tindakan memadamkan kebakaran
2. Program penyelamatan (salvage program)
    Program penyelamatan barang-barang yang selamat dari peril. Mis. Menyelamatkan barang2 yang tidak terbakar.
 Program Pengendalian Kerugian Berdasarkan Sebab-sebab terjadinya.
Ada dua macam pendekatan:
  1. Pendekatan engineering; program pengendalian yang menekankan pada pengendalian sebab-sebab yang bersifat fisik dan mekanis. Mis. Memperbaiki kabel listrik yang tidak memenuhi syarat
  2. Pendekatan hubungan kemanusiaan; menekankan pada pencegahan terjadinya kecelakaan krn faktor manusia spt lengah, suka menantang bahaya, tidak memakai alat keselamatan, faktor psikologis.
  c. Pengendalian kerugian menurut lokasi
     Menurut W.Haddon kemungkinan dan keparahan kerugian kecelakaan lau lintas tergantung pada kondisi dari:
  1. Orang yang menggunakan jalan
  2. Kendaraan
  3. Lingkungan umum jalan yg meliputi faktor2 seperti desain, pemeliharaan, rambu-rambu, keadaan lalu lintas
  d. Pengendalian menurut timing
Pendekatan ini berkaitan dengan malsaah kapan metode pencegahan/pengendalian digunakan, yg dapat terjadi:
  1. Sebelum terjadinya peril
  2. Selama terjadinya peril
  3. Sesudah terjadinya peril

     

  • 3. Pemisahan
  • Pemisahan artinya memisahkan penempatan dari harta yang menghadapi resiko yang sama. Jadi dengan cara menambah banyaknya”independent exposure unit” sehingga probabilitas kerugian dapat diperkecil. Maksud pemisahan adalah utk mengurangi jumlah kerugian akibat terjadinya peril.

  • 4. Kombinasi atau Pooling
  • Adalah usaha menambah banyaknya exposure unit  dalam batas kendali perusahaan dengan tujuan agar kerugian yang akan dialami lebih dapat diramalkan, sehingga resikonya lebih kecil.
  • Mis. Perusahaan tranportasi memperbanyak armadanya agar peluang terjadinya kecelakaan diperkecil

  • 5. Pemindahan Resiko
  • Dapat dilakukan dengan cara:
  1. Harta milik atau kegiatan yang menghadapi resiko dipindahkan ke pihak lain yang dinyatakan dgn tegas dalam transaksi atau kontrak. Mis. Perusahaan menyerahkan pengangguktan produknya pd perusahaan transportasi.
  2. Resikonya sendiri yang dipindahkan
      mis. Dalam perjanjian sewa menyewa rumah, biasanya pemilik rumah memindahkan resiko kerusakan akibat kelalaian penyewa pada penyewa
2. Pembiayaan Resiko
      Cara/metode yang dapat digunakan adalah:
  1. Pemindahan resiko dengan pembiayaan (risk financing transfer)
  2. Melakukan retensi (menangani sendiri resiko yang dihadapi)

a. Risk Financing Transfers
Pemindahan resiko dengan cara ini berarti pennaggung harus mencari dana eksternal utk membayar kerugian yang diderita oleh tertanggung.
Dapat dilakukan dengan cara:
  1. Transfer resiko pada perusahaan asuransi (mengasuransikan)
  2. Transfer resiko pada perusahaan yang bukan perusahaan asuransi (noninsurance transfer)Noninsurance transfer
    Biasanya dilakukan melalui kontrak-kontrak bisnis biasa atau melalui kontrak khusus utk pemindahan resiko.
Isi kontrak berkenaan dengan pemindahan tanggung jawab atas kerugian terhadap:
  1. Harta kekayaan
  2. Net income
  3. Personil
  4. Tanggung jawab kpd pihak ketiga

b. Meretensi
Artinya perusahaan menanggung sendiri resiko keuangan dari suatu peril dan merupakan bentuk penanggulangan resiko yang paling umum.
Sumber dana penanggulangan resiko ditanggung sendiri oleh perusahaan ybs.
Penanggulangan dapat bersifat pasif (tidak direncakana) atau aktif (direncanakan)
Beberapa alasan mengapa suatu perusahaan melakukan retensi dalam penanggulangan resiko:
  1. Merupakan keharusan krn tidak ada alternatif lain. mis. Kerugian krn bencana alam, tindakan kriminal, keusangan, dll.
  2. Berdasarkan pertimbangan biaya, artinya jika dipindahkan resiko tsb biayanya lebih mahal
  3. Bila perkiraan expected loss dari manajer resiko lebih rendah dari perkiraan perusahaan asuransi
      4. Berdasarkan prinsip “opportunity cost” dimana manajer resiko berpendapat bhw penggunaan dana utk kepentingan investasi lebih menguntungkan drpd membayar premi
      5. Kualitas layanan dari penanggung dianggap kurang memuaskan dibandingkan dengan bila resiko tersebut ditangani sendiri.
Kelemahan Retensi Resiko
  • Sering biaya yang dikeluarkan dengan meretensi lbh besar dari biaya yang dibebankan perusahaan asuransi
  • Expected lossnya lebih besar dari yang diperkirakan perusahaan asuransi
  • Exposure unitnya sedikit sehingga resiko tinggi
  • Ketidakmampuan keuangan perusahaan utk menopang maximum possible losses atau maximum probable losses dalam jangka pendek

Referennsi:
Manajemen Resiko
BUKU
  • Prinsip-Prinsip Manajemen Resiko dan Asuransi, Soeisno Djojosoedarso, Salemba Empat, Jakarta.
  • Manajemen Resiko, Damawi Herman, Bumi Aksara, Jakarta.
  • Manajemen Resiko dan Asuransi, Ferdinan Silalahi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
  • Dasar-dasar Asuransi, A.Abas Salim, Raja Grafindo Persada, Jakarta

5 komentar: